
Dua Kubu PPP Islah, Wagub Jateng Taj Yasin Resmi Jadi Sekjen
PPP Akhirnya Islah: Dua Kubu Bersatu Setelah Konflik Panjang
lacakperistiwa.com – Partai Persatuan Pembangunan (PPP) akhirnya mencapai titik damai setelah bertahun-tahun terpecah dalam dua kubu. Dalam pertemuan tertutup yang berlangsung di Jakarta, kedua pihak sepakat untuk islah atau berdamai, menandai babak baru bagi partai berlambang Ka’bah ini.
Kesepakatan tersebut tidak hanya menutup konflik internal yang berkepanjangan, tapi juga membuka jalan bagi restrukturisasi besar dalam tubuh partai. Salah satu keputusan paling mencolok adalah penunjukan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) PPP.
Langkah ini disambut positif oleh para kader di berbagai daerah. Mereka menilai kehadiran Taj Yasin, yang dikenal moderat dan punya hubungan baik dengan berbagai kalangan, bisa menjadi jembatan yang menyatukan kembali kekuatan partai menjelang tahun politik berikutnya.

Taj Yasin Maimoen, Simbol Rekonsiliasi PPP
Taj Yasin Maimoen, atau akrab disapa Gus Yasin, bukan sosok baru di dunia politik Islam Indonesia. Sebagai putra ulama kharismatik KH Maimoen Zubair (Mbah Moen), Taj Yasin punya posisi kuat baik di kalangan pesantren maupun di lingkar politik Nahdlatul Ulama (NU).
Penunjukannya sebagai Sekjen PPP dianggap simbol rekonsiliasi antara dua kubu besar yang sempat bersaing keras dalam beberapa tahun terakhir. Gus Yasin diharapkan mampu meredam friksi dan membangun kembali kepercayaan di internal partai.
“PPP harus kembali jadi rumah besar umat Islam. Sudah saatnya kita berhenti berpecah dan fokus membesarkan partai,” ujar Gus Yasin dalam pernyataannya usai rapat islah, Senin (7/10).
Kehadiran Gus Yasin juga memberi sinyal kuat bahwa PPP sedang mencoba menarik kembali basis tradisionalnya, terutama kalangan pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang sempat menjauh akibat konflik elit partai.
Kronologi Islah: Dari Konflik Dua Kubu ke Kesepakatan Damai
Konflik di tubuh PPP bermula sejak Muktamar Surabaya 2014, ketika muncul dua kepengurusan yang saling mengklaim legitimasi — kubu Djan Faridz dan kubu Romahurmuziy. Sengketa itu kemudian terus berlanjut hingga ke meja pengadilan, membuat partai ini kehilangan banyak kursi di Pemilu 2019.
Situasi makin rumit setelah beberapa pengurus daerah terbelah loyalitasnya. PPP yang dulunya solid di kalangan santri dan ulama kini terjebak dalam pertarungan politik internal.
Namun titik balik mulai tampak setelah muncul dorongan dari sejumlah ulama dan sesepuh PPP untuk menghentikan perpecahan menjelang tahun politik 2024–2025. Desakan ini akhirnya melahirkan pertemuan islah di Jakarta yang dihadiri kedua kubu, termasuk perwakilan DPP dan DPW dari berbagai provinsi.
Dalam pertemuan itu, para pihak menyepakati dua poin utama:
-
Menyatukan struktur kepengurusan di bawah satu kepemimpinan bersama.
-
Menunjuk Gus Yasin sebagai Sekjen baru PPP sebagai simbol rekonsiliasi dan generasi penerus.
Dukungan dari Ulama dan Kader Daerah
Islah ini mendapat dukungan luas dari kalangan pesantren dan para kiai di berbagai daerah. Nama besar ayah Gus Yasin, KH Maimoen Zubair, disebut-sebut menjadi faktor yang mempercepat tercapainya perdamaian.
Beberapa kiai senior NU di Rembang, Demak, dan Kudus menyatakan dukungan penuh terhadap langkah ini. Mereka menilai bahwa dengan adanya figur religius muda seperti Gus Yasin, PPP bisa kembali ke jati dirinya sebagai partai umat Islam yang santun dan moderat.
Sementara itu, sejumlah pengurus wilayah PPP di luar Jawa juga menyambut positif. Ketua DPW PPP Sulawesi Selatan mengatakan bahwa islah ini menjadi momentum emas untuk kebangkitan partai setelah bertahun-tahun stagnan di bawah 5% suara nasional.
Tantangan Berat: Konsolidasi dan Reposisi Politik
Meski islah sudah tercapai, jalan PPP menuju soliditas penuh masih panjang. Tantangan terbesar adalah konsolidasi di tingkat daerah dan reposisi politik di tengah persaingan antarpartai Islam.
PPP kini harus bekerja keras untuk merebut kembali basis suara yang dulu beralih ke PKB, PAN, dan bahkan Partai Gelora. Selain itu, partai ini juga perlu memperkuat citra di kalangan milenial, yang selama ini kurang tertarik dengan politik berbasis agama.
Pengamat politik dari UIN Jakarta, Adhi Prayoga, menilai langkah islah ini penting, tapi belum cukup.
“PPP perlu rebranding. Mereka harus keluar dari bayang-bayang konflik lama dan menunjukkan arah baru. Penunjukan Gus Yasin bisa jadi awal yang baik kalau disertai pembaruan visi,” ujarnya.
Strategi Baru PPP: Menarik Basis Muda dan Digitalisasi Partai
Sebagai bagian dari hasil islah, PPP kabarnya akan meluncurkan program digitalisasi struktur partai dan rekrutmen kader muda berbasis pesantren. Program ini akan difokuskan pada penguatan media sosial dan platform komunikasi internal berbasis digital untuk memperluas jangkauan partai.
Gus Yasin sendiri disebut ingin menjadikan PPP lebih terbuka terhadap ide-ide progresif tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam moderat.
“Kami ingin PPP dikenal sebagai partai yang bisa bicara politik dengan akhlak. Kita ingin kembali relevan, terutama di mata generasi muda,” tegasnya.
Langkah ini juga dianggap penting mengingat tren pemilih muda pada Pemilu mendatang bisa mencapai lebih dari 50%. Tanpa penetrasi digital yang kuat, partai-partai lama seperti PPP akan sulit bersaing.
Reaksi Pemerintah dan Rival Politik
Pemerintah menyambut positif kabar islah dua kubu PPP. Menteri Dalam Negeri menilai langkah ini akan memperkuat demokrasi dan stabilitas politik nasional.
“Islah di tubuh partai-partai Islam besar seperti PPP itu sehat untuk demokrasi. Kita butuh partai yang solid dan punya arah jelas,” katanya.
Sementara itu, partai-partai rival seperti PKB dan PAN mengucapkan selamat, namun dengan nada hati-hati. Beberapa analis menilai bahwa kebangkitan PPP bisa kembali menggerus basis suara partai-partai Islam lain di Jawa dan Sumatera.
Momentum Emas untuk PPP Bangkit
Islah Sebagai Babak Baru
Langkah islah ini bukan sekadar perdamaian internal, tapi titik balik bagi PPP untuk kembali jadi kekuatan politik signifikan di Indonesia. Dengan hadirnya Taj Yasin sebagai Sekjen, partai ini kini punya figur muda yang religius, populer, dan diterima lintas generasi.
Harapan untuk Masa Depan PPP
Jika konsolidasi berjalan mulus, PPP bisa kembali menjadi partai penentu di koalisi besar nasional. Tapi jika konflik lama kambuh lagi, momentum ini bisa hilang begitu saja. Pilihannya sederhana: bersatu dan bangkit, atau kembali tenggelam dalam sejarah politik Islam Indonesia.
You may also like
Archives
Calendar
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | |||||
| 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 |
| 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 |
| 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 |
| 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 |


